MAKALAH MAKNA
PEMASANGAN BENDERA KUNING DIKAMPUNG KEBONHARJO
SEMARANG
Disusun oleh :
Nama : Novilita Kusuma Astuti
NIM : 2601411103
Rombel : 4
Semester : 5
Makul : Semantik
Disusun oleh :
Nama : Novilita Kusuma Astuti
NIM : 2601411103
Rombel : 4
Semester : 5
Makul : Semantik
JURUSAN
BAHASA DAN SASTRA JAWA
FAKULTAS
BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS
NEGERI SEMARANG
Abstrak
Dijaman sekarang ini terdapat berbagai makna yang sudah dilupakan oleh
masyarakat jawa. Masyarakat jawa kebanyakan hanya melakukan sebuah tradisi
ataupun budaya tanpa memperhatikan makna yang terkandung didalamnya. Banyak
makna yang terkandung dalam sebuah lambang. Salah satunya yaitu lambang bendera
kuning. Bendera kuning diartikan sebagai lambang jika ada seseorang meninggal
dunia.
Pandangan
para linguis khususnya para ahli semantik tentang banyaknya definisi makna,
memberikan banyak peluang penelitian yang berhubungan dengan makna. Secara umum lambang jika ada kematian itu tidak bendera warna kuning
saja. Disetiap daerah mempunyai ciri khas tersendiri. Akan tetapi di wilayah
kota Semarang kebanyakan jika ada orang yang meninggal diberi bendera kuning
sebagai lambang jika sedang berduka cita. Pemasangan bendera kuning ini
mempunyai banyak fungsi contohnya saja sebagai petunjuk jika tempat yang
berduka dialamat tersebut dan lain sebagainya.Kata Kunci : Bendera Kuning
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Masyarakat
Indonesia mempunyai banyak kebudayaan serta tradisi di daerah masing – masing.
Kita harus bangga sebagai warga negara Indonesia yang memiliki bermacam-macam
kebudayaan, serta tatanan kehidupan masing-masing daerah. Pepatah mengatakan
bahwa, lain ladang, lain ilalang. Kata-kata tersebut sangat cocok bila
dikaitkan dalam sisi kehidupan. Karena secara real-nya memang sudah seharusnya
kita menyesuaikan diri terhadap kebiasaan atau budaya yang berhubungan dengan
kehidupan khususnya.
Manusia
hidup dengan sebuah simbol dalam hidupnya. Ia perlu sebuah tanda atau simbol
untuk mengidentifikasikan dan membedakan dirinya dengan orang lain.
Berkomunikasi dengan sesamanya dan dengan penciptanya. Simbol itu bisa berupa
sesuatu yang berbentuk, berwarna maupun suara. Simbol adalah komunikasi
mendalam tanpa bertele-tele berbicara, dan tak harus berpanjang-panjang dengan
teks. Simbol pun perlu konteks untuk bisa dimaknai dengan sempurna. Bentuk yang
sama bisa berbeda makna jika konteksnya berbeda. Selain simbol yang dipakai
bersama di sebuah komunitas, daerah, negara bahkan benua, ada juga simbol yang berlaku pribadi.
Lambang
(symbol) tidak bersifat langsung dan alamiah. Lambang menandai sesuatu yang
lain secara konvensional, tidak secara alamiah dan langsung. Lambang mempunyai
sifat arbriter dalam kehidupan sehari – hari. Kata lambang sudah sering kita
dengar dalam percakapan sehari-hari. Umpamanya dalam membicarakan bendera misalnya,
kalau di mulut gang ada bendera kuning, Ketika menyebut Bendera Kuning, sebagian besar dalam benak anda langsung teringat
kepada sebuah kematian. Ketika
ada kematian pemasangan bendera kuning seperti menjadi hal wajib yg harus
dilaksanakan. Sebenarnya
ada makna apa dibalik bendera kuning yang sedng berkibar didepan rumah orang
yang sedang berduka.
Akan
tetapi banyak orang yang tak mengetahui makna yang terkandung serta asal muasal
mengapa lambang ketika ada orang yang meninggal dunia yaitu bendera kuning
khususnya didaerah kampung Kebonharjo Semarang. Banyak juga masyarakat
mempunyai lambang bendera yang berbeda disetiap daerahnya dan pastinya
mempunyai makna yang berbeda pula. Karena kita berada di semboyan Bhineka
Tunggal Ika, walaupun berbeda – beda tetap satu juga. Menandakan walaupun
terdapat perbedaan disetiap daerah tetap bersatu.
Rumusan Masalah
1. Apa makna yang terkandung didalam Bendera
Kuning secara umum?
2. Bagaimana makna yang ada didalam pemasangan
bendera kuning dikampung Kebonharjo Semarang ?
1.3
Tujuan
Masalah
1. Mendiskripsikan
tentang Bendera Kuning secara umum.
2. Mengetahui
makna yang ada didalam pemasangan bendera kuning dikampung Kebonharjo Semarang.
1.4
Metode
Makalah
ini menggunakan metode studi pustaka
serta observasi. Metode studi pustaka serta observasi dengan
menggunakan literatur atau informasi yang relevan berdasarkan makalah yang saya
buat. Banyak informasi yang saya dapat ketika pembuatan makalah ini. Menggunakan
metode observasi karena saya mengamati serta mencari informasi dilapangan. Informasi
yang berkaitan dengan makna pemasangan bendera kuning dikampung Kebonharjo
Semarang.
PEMBAHASAN
Semantik
pertama kali digunakan oleh seorang filolog Perancis bernama Michel Breal pada
tahun 1883. Kata semantik kemudian disepakati sebagai istilah yang digunakan
untuk bidang linguistik yang mempelajari tentang tanda-tanda linguistik dengan
hal-hal yang ditandainya. Oleh karena itu, kata semantik dapat diartikan
sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga
tataran analisis bahasa: fonologi, gramatika, dan semantik (Chaer, 1994: 2). Dalam
analisis semantik juga harus disadari, karena bahasa itu bersifat unik, dan
mempunyai hubungan yang sangat erat dengan masalah budaya maka, analisis suatu
bahasa hanya berlaku untuk bahasa itu saja, tetapi tidak dapat digunakan untuk
menganalisis bahasa lain. Bahasa merupakan alat untuk menyatakan makna. Dixon (1992:5) menyatakan bahwa dalam pemakaiannya bahasa
akan berawal dari makna dan berakhir dengan makna. Berawal dari makna berarti
sebelum menggunakan suatu bentuk bahasa baik secara lisan / tulisan maupun
gerakan ( gesture ), pemakai bahasa merumuskan konsep dalam pikirannya terlebih
dahulu, dan berakhir dengan makna berarti lawan bicara atau pembaca dapat
memahami konsep tersebut secara utuh.
Penelitian ini dilakukan karena
langkanya penelitian dalam bidang semantik khususnya tentang makna warna yang
dilihat dari sudut pandang filsafat, kepercayaa, mitos dan hal-hal yang
berhubungan dengan budaya suatu masyarakat. Deskripsi makna warna yang
diperoleh dari hasil penelitian ini memberikan sumbangan informasi tentang
makna warna, sehingga konsep warna yang ada tidak diterima begitu saja sebagai
sebuah mitos yang harus diikuti tanpa pengertian yang logis, akan tetapi dapat
dipahami dan dimaknai dengan lebih baik. Sehubungan dengan hal tersebut di atas
maka makna warna oleh para teoritisi dikatakan memiliki makna majemuk. Disamping
makna majemuk seperti di atas, Wiersbicka (1996) lebih jauh menyatakan bahwa
warna merupakan sesuatu yang sangat spesifik yang sangat sulit untuk diberikan
pemaknaannya karena pada semua budaya orang-orang lebih tertarik untuk
mengungkapkan makna warna melalui proses ‘ melihat’ yang sifatnya sangat
’contextualized’ Oleh karena itulah penguraian makna warna berdasarkan sudut
pandang filsafat, kepercayaa, mitos dan hal-hal yang berhubungan dengan budaya
suatu masyarakat, tidak dapat hanya berdasarkan makna konseptualnya saja akan
tetapi memerlukan penguraian makna secara lebih rinci yaitu melalui penggunaan
makna asal
.
Digunakannya
bendera kuning sebagai tanda ada orang yang meninggal sudah ada sejak jaman
Belanda. Konon awalnya, dulu banyak warga pribumi yang terserang penyakit
menular yang selalu berujung pada kematian. Agar tidak
tertular penyakit menular tersebut, warga pribumi yang terserang penyakit
akhirnya di karantina oleh penjajah Belanda. Dengan maksud agar tidak tertular
penyakit, warga yang terjangkit penyakit benar-benar di kurung di dalam sebuah
kapal sampai mati. Dan sebagai tanda bahwa di dalamnya ada orang yang
terjangkit penyakit berbahaya dan menular bahkan hingga selalu berakhir pada kematian,
Belanda memberikan tanda menggunakan bendera kuning yang bertuliskan huruf ‘Q’,
yang berarti quarantine (karantina). Oleh karena hal
tersebut secara perlahan image bendera kuning identik dengan sebuah duka atau kematian.
Dari
analisis saya dilapangan bendera kuning mempunyai makna yang menandakan bahwa
didaerah kampung Kebonharjo Semarang ada yang sedang berduka, selain itu simbol
yang digunakan sebagai petunjuk arah juga untuk mengetahui tempat yang sedang
berduka cita.
Simpulan
Dari
beberapa penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa penguraian makna warna
berdasarkan sudut pandang filsafat, kepercayaa, mitos dan hal-hal yang
berhubungan dengan budaya suatu masyarakat. Bendera kuning di kampung
Kebonharjo Semarang mempunyai makna sebagai lambang bahwa ditempat itu ada yang
sedang berduka dan mereka menganggap bahwa asal usul dari lambang bendera
kuning tersebut berasal dari jaman Belanda sebagai lambang kematian.
Daftar Pustaka
Chaer, Abdul. 1994. Pengantar Semantik Bahasa
Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta:
Rineka Cipta.
http://bagaslogending2.blogspot.com/2013/12/semiotikalambang-dan-simbol-pada-gambar.html
diakses pada tanggal 23 Desember 2013.
http://www.kenapasih.com/asal-usul-dan-arti-di-balik-bendera-kuning/
diakses pada tanggal 23 Desember 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar