Kamis, 05 Juni 2014

MAKNA PEMASANGAN BENDERA KUNING DIKAMPUNG KEBONHARJO

MAKALAH MAKNA PEMASANGAN BENDERA KUNING DIKAMPUNG KEBONHARJO SEMARANG 
Disusun oleh :
Nama            : Novilita Kusuma Astuti
NIM              : 2601411103
Rombel         :  4
Semester       :  5 
Makul           :  Semantik  



JURUSAN BAHASA DAN SASTRA JAWA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG



Abstrak
Dijaman sekarang ini terdapat berbagai makna yang sudah dilupakan oleh masyarakat jawa. Masyarakat jawa kebanyakan hanya melakukan sebuah tradisi ataupun budaya tanpa memperhatikan makna yang terkandung didalamnya. Banyak makna yang terkandung dalam sebuah lambang. Salah satunya yaitu lambang bendera kuning. Bendera kuning diartikan sebagai lambang jika ada seseorang meninggal dunia.
Pandangan para linguis khususnya para ahli semantik tentang banyaknya definisi makna, memberikan banyak peluang penelitian yang berhubungan dengan makna. Secara umum lambang jika ada kematian itu tidak bendera warna kuning saja. Disetiap daerah mempunyai ciri khas tersendiri. Akan tetapi di wilayah kota Semarang kebanyakan jika ada orang yang meninggal diberi bendera kuning sebagai lambang jika sedang berduka cita. Pemasangan bendera kuning ini mempunyai banyak fungsi contohnya saja sebagai petunjuk jika tempat yang berduka dialamat tersebut dan lain sebagainya.Kata Kunci : Bendera Kuning



PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Masyarakat Indonesia mempunyai banyak kebudayaan serta tradisi di daerah masing – masing. Kita harus bangga sebagai warga negara Indonesia yang memiliki bermacam-macam kebudayaan, serta tatanan kehidupan masing-masing daerah. Pepatah mengatakan bahwa, lain ladang, lain ilalang. Kata-kata tersebut sangat cocok bila dikaitkan dalam sisi kehidupan. Karena secara real-nya memang sudah seharusnya kita menyesuaikan diri terhadap kebiasaan atau budaya yang berhubungan dengan kehidupan khususnya.
Manusia hidup dengan sebuah simbol dalam hidupnya. Ia perlu sebuah tanda atau simbol untuk mengidentifikasikan dan membedakan dirinya dengan orang lain. Berkomunikasi dengan sesamanya dan dengan penciptanya. Simbol itu bisa berupa sesuatu yang berbentuk, berwarna maupun suara. Simbol adalah komunikasi mendalam tanpa bertele-tele berbicara, dan tak harus berpanjang-panjang dengan teks. Simbol pun perlu konteks untuk bisa dimaknai dengan sempurna. Bentuk yang sama bisa berbeda makna jika konteksnya berbeda. Selain simbol yang dipakai bersama di sebuah komunitas, daerah, negara bahkan benua, ada juga simbol yang berlaku pribadi.
Lambang (symbol) tidak bersifat langsung dan alamiah. Lambang menandai sesuatu yang lain secara konvensional, tidak secara alamiah dan langsung. Lambang mempunyai sifat arbriter dalam kehidupan sehari – hari. Kata lambang sudah sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari. Umpamanya dalam membicarakan bendera misalnya, kalau di mulut gang ada bendera kuning, Ketika menyebut Bendera Kuning, sebagian besar dalam benak anda langsung teringat kepada sebuah kematian. Ketika ada kematian pemasangan bendera kuning seperti menjadi hal wajib yg harus dilaksanakan. Sebenarnya ada makna apa dibalik bendera kuning yang sedng berkibar didepan rumah orang yang sedang berduka.
Akan tetapi banyak orang yang tak mengetahui makna yang terkandung serta asal muasal mengapa lambang ketika ada orang yang meninggal dunia yaitu bendera kuning khususnya didaerah kampung Kebonharjo Semarang. Banyak juga masyarakat mempunyai lambang bendera yang berbeda disetiap daerahnya dan pastinya mempunyai makna yang berbeda pula. Karena kita berada di semboyan Bhineka Tunggal Ika, walaupun berbeda – beda tetap satu juga. Menandakan walaupun terdapat perbedaan disetiap daerah tetap bersatu.

Rumusan Masalah
1.     Apa makna yang terkandung didalam Bendera Kuning secara umum?
2.     Bagaimana makna yang ada didalam pemasangan bendera kuning dikampung Kebonharjo Semarang ?

1.3    Tujuan Masalah
1.    Mendiskripsikan tentang Bendera Kuning secara umum.
2.    Mengetahui makna yang ada didalam pemasangan bendera kuning dikampung Kebonharjo Semarang.

1.4    Metode
Makalah ini menggunakan metode studi pustaka serta observasi. Metode studi pustaka serta observasi dengan menggunakan literatur atau informasi yang relevan berdasarkan makalah yang saya buat. Banyak informasi yang saya dapat ketika pembuatan makalah ini. Menggunakan metode observasi karena saya mengamati serta mencari informasi dilapangan. Informasi yang berkaitan dengan makna pemasangan bendera kuning dikampung Kebonharjo Semarang.
 

PEMBAHASAN
Semantik pertama kali digunakan oleh seorang filolog Perancis bernama Michel Breal pada tahun 1883. Kata semantik kemudian disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari tentang tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Oleh karena itu, kata semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga tataran analisis bahasa: fonologi, gramatika, dan semantik (Chaer, 1994: 2). Dalam analisis semantik juga harus disadari, karena bahasa itu bersifat unik, dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan masalah budaya maka, analisis suatu bahasa hanya berlaku untuk bahasa itu saja, tetapi tidak dapat digunakan untuk menganalisis bahasa lain. Bahasa merupakan alat untuk menyatakan makna. Dixon (1992:5) menyatakan bahwa dalam pemakaiannya bahasa akan berawal dari makna dan berakhir dengan makna. Berawal dari makna berarti sebelum menggunakan suatu bentuk bahasa baik secara lisan / tulisan maupun gerakan ( gesture ), pemakai bahasa merumuskan konsep dalam pikirannya terlebih dahulu, dan berakhir dengan makna berarti lawan bicara atau pembaca dapat memahami konsep tersebut secara utuh.
            Penelitian ini dilakukan karena langkanya penelitian dalam bidang semantik khususnya tentang makna warna yang dilihat dari sudut pandang filsafat, kepercayaa, mitos dan hal-hal yang berhubungan dengan budaya suatu masyarakat. Deskripsi makna warna yang diperoleh dari hasil penelitian ini memberikan sumbangan informasi tentang makna warna, sehingga konsep warna yang ada tidak diterima begitu saja sebagai sebuah mitos yang harus diikuti tanpa pengertian yang logis, akan tetapi dapat dipahami dan dimaknai dengan lebih baik. Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka makna warna oleh para teoritisi dikatakan memiliki makna majemuk. Disamping makna majemuk seperti di atas, Wiersbicka (1996) lebih jauh menyatakan bahwa warna merupakan sesuatu yang sangat spesifik yang sangat sulit untuk diberikan pemaknaannya karena pada semua budaya orang-orang lebih tertarik untuk mengungkapkan makna warna melalui proses ‘ melihat’ yang sifatnya sangat ’contextualized’ Oleh karena itulah penguraian makna warna berdasarkan sudut pandang filsafat, kepercayaa, mitos dan hal-hal yang berhubungan dengan budaya suatu masyarakat, tidak dapat hanya berdasarkan makna konseptualnya saja akan tetapi memerlukan penguraian makna secara lebih rinci yaitu melalui penggunaan makna asal
.
Digunakannya bendera kuning sebagai tanda ada orang yang meninggal sudah ada sejak jaman Belanda. Konon awalnya, dulu banyak warga pribumi yang terserang penyakit menular yang selalu berujung pada kematian. Agar tidak tertular penyakit menular tersebut, warga pribumi yang terserang penyakit akhirnya di karantina oleh penjajah Belanda. Dengan maksud agar tidak tertular penyakit, warga yang terjangkit penyakit benar-benar di kurung di dalam sebuah kapal sampai mati. Dan sebagai tanda bahwa di dalamnya ada orang yang terjangkit penyakit berbahaya dan menular bahkan hingga selalu berakhir pada kematian, Belanda memberikan tanda menggunakan bendera kuning yang bertuliskan huruf ‘Q’, yang berarti quarantine (karantina). Oleh karena hal tersebut secara perlahan image bendera kuning identik dengan sebuah duka atau kematian.
Dari analisis saya dilapangan bendera kuning mempunyai makna yang menandakan bahwa didaerah kampung Kebonharjo Semarang ada yang sedang berduka, selain itu simbol yang digunakan sebagai petunjuk arah juga untuk mengetahui tempat yang sedang berduka cita.
Simpulan
Dari beberapa penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa penguraian makna warna berdasarkan sudut pandang filsafat, kepercayaa, mitos dan hal-hal yang berhubungan dengan budaya suatu masyarakat. Bendera kuning di kampung Kebonharjo Semarang mempunyai makna sebagai lambang bahwa ditempat itu ada yang sedang berduka dan mereka menganggap bahwa asal usul dari lambang bendera kuning tersebut berasal dari jaman Belanda sebagai lambang kematian.


Daftar Pustaka
Chaer, Abdul. 1994. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
http://bagaslogending2.blogspot.com/2013/12/semiotikalambang-dan-simbol-pada-gambar.html   diakses pada tanggal 23 Desember 2013.
http://www.kenapasih.com/asal-usul-dan-arti-di-balik-bendera-kuning/   diakses pada tanggal 23 Desember 2013.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar